Merujuk ke Manakah Kata Ganti “Huwa” yang Mustatir Pada Fi’il Khalā, ‘Adā, dan Hāsyā?

Dalam Al-Muqaddimah Al-Ājurrūmiyyah, Ibnu Ājurrūm (w. 723 H) sebutkan bahwa Khalā (خَلَا), ‘Adā (عَدَا), dan Ḥāsyā (حَاشَا) termasuk di antara delapan kata yang digunakan dalam istiṡnā’ (pengecualian). Beliau tambahkan pula bahwa isim setelah ketiga kata ini boleh majrūr dan boleh manṣūb[2]. Ibnu Mālik (w. 672 H) mengatakan dalam Alfiyyah beliau:

وَحَيْثُ جَرَّا فَهُمَا حَرْفَانِ – كَمَا هُمَا إِنْ نَصَبَا فِعْلَانِ

“Jika kedua kata ini membuat majrur isim setelahnya, maka berarti saat itu ia dianggap huruf (jarr). Begitu juga keduanya dianggap fi’il ketika keduanya membuat manṣūb isim setelahnya.”[3]

Berarti saat ia merupakan fi’il (yang maknanya adalah جَاوَزَ/melewatkan)[4], di mana setiap fi’il pasti memiliki fa’il[5], maka kalimatnya sesungguhnya begini:

خَرَجَ الطُّلَّابُ عَدَا (هُوَ) زَيْدًا

Para Naḥwiyyūn menyatakan bahwa berbeda dari biasanya, ḍamīr “huwa” di sini wajib dimustatirkan. Sībawaih (w. 180 H) katakan bahwa itu karena ia sama hukumnya dengan ḍamīr “huwa” pada ayat “walāta ḥīna manāṣ” [QS. 38: 3][6]. Ar-Rummāniyy (w. 384 H) tambahkan bahwa sebabnya adalah karena ḍamīrnya hanya bisa satu saja (yakni “huwa”, tidak bisa diberi ta’nīṡ dan tidak bisa isim ẓāhir).”[7]

Pertanyaan selanjutnya yang menjadi topik utama artikel ini adalah: “Kepada kata apakah kata ganti ‘huwa’ di sini merujuk?”

Ibnu Hisyām (w. 761 H) dalam Mughnil Labīb menyebutkan ada tiga pendapat dalam hal ini[8]. BISA dalam hal ini mengikuti pendapat mayoritas ulama nahwu Baṣrah[9], termasuk Sībawaih[10], bahwa “huwa” tadi taqdirnya ialah: ba’ḍuhum (بَعْضُهُمْ) yang berarti “sebagian mereka” nan tersirat dalam kalimat (jumlah) tersebut. Sehingga kalimat tadi sebenarnya:

خَرَجَ الطُّلَّابُ عَدَا (هُوَ: بَعْضُهُمْ) زَيْدًا

Maknanya secara letterlijk adalah begini: “Semua mahasiswa keluar, sebagian mereka melewatkan Zaid”.

*Penting diingat bahwa “ba’ḍuhum” bisa digantikan dengan dengan ḍamīr “huwa”, tidak harus “hum”. Itu karena secara lafal, “ba’ḍ” itu mużakkar mufrad.

As-Sairāfiyy (w. 368 H)[11] dan As-Suyūṭiyy (w. 911 H)[12] secara eksplisit merajihkan pendapat ini. Bahkan Al-Mubarrid (w. 285 H)[13] dan Ibnu Ya’īsy (w. 643 H) tidak menyebutkan kecuali pendapat ini saja. Beliau tuliskan:

وَالتَّقْدِيْرُ: ‌خَلَا ‌بَعْضُهُمْ زَيْدًا، وَعَدَا بَعْضُهُمْ زَيْدًا

“Taqdirnya adalah ‘khalā ba’ḍuhum Zaidan’ dan ‘’adā ba’ḍuhum Zaidan’.”[14]

Sebagian Naḥwiyyūn ada yang mengritik pendapat ini, semisal Khālid Al-Azhariyy (w. 905 H) yang mengritik dengan mengatakan bahwa saat mengatakan kalimat barusan, sebenarnya orang yang berkata demikian tidak memaksudkan Zaid termasuk dalam kata “aṭ-ṭullāb” sehingga bisa “dilewatkan” oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya[15]. Hanya saja pengritik di sini sepertinya lupa bahwa konsep pengecualian (istiṡnā’) adalah “ikhrāju mā laulāhu ladakhala fil kalām” (mengeluarkan sesuatu dari suatu kelompok yang andai bukan karena istiṡnā’, niscaya ia akan masuk dalam kelompok itu”.

Kritikan lain juga datang dari Muḥammad Muḥyiddīn ‘Abdul Ḥamīd (w. 1392 H). Beliau mengritik dengan mengatakan bahwa jika “huwa” kembali pada “ba’ḍuhum”, maka berarti “ba’ḍuhum” di sini maknanya adalah “seluruh kecuali seorang (Zaid)” dan menurut beliau itu “laisa minal ma’hūd (tidak ada contoh sebelumnya)” [16]. Menurut penulis, kritik ini kurang kuat karena para tokoh Naḥwiyyūn legendaris lintas sejarah menerima pemaknaan “ba’ḍuhum” dengan “seluruhnya kecuali satu”. Apalagi memang yang terpenting dari “ba’ḍ” adalah ia adalah sebagian daripada “kull”.

Adapun kedua pendapat lainnya, yaitu bahwa “huwa” kembali ke isim fa’il atau maṣdar yang terpahami dari fi’il di kalimat (jumlah) utama, maka memiliki sisi lemah ketika kalimat (jumlah) utamanya tidak mengandung fi’il. Jika pendapat ini hendak dibela di kasus tersebut, maka ia mengharuskan kita melakukan ta’wīl serta menaqdirkan kata yang banyak[17]. Sementara sebisa mungkin kita harus menimalisir taqdir dan ta’wīl[18].

Simpulannya: Pendapat yang BISA ikuti adalah bahwa ḍamīr mustatir wujūban (huwa) pada istiṡnā’ dengan fi’il Khalā (خَلَا), ‘Adā (عَدَا), dan Ḥāsyā (حَاشَا) kembali ke “ba’ḍuhum” yang tersirat dalam kalimat (jumlah) tersebut.


[1] Ditulis di Jeddah, 26 Januari 2022 oleh: Nur Fajri Romadhon (direktur BISA).

[2] Lihat: Ibnu Ājurrūm, Al-Muqaddimah Al-Ājurrūmiyyah (hlm. 20). Riyadh: Dār Aṣ-Ṣumai’iyy, 1998.

[3] Ibnu Mālik: Al-Alfiyyah/Al-Khulāṣah (bait ke-330, hlm. 111). Riyadh: Maktabah Dāril Minhāj, 2007.

[4] Lihat: Al-Mubarrid, Al-Muqtaḍab (IV/426). Kairo: Wizārah Al-Awqāf, 1994.

[5] Lihat: Al-Istrābāżiyy, Syarḥul Kāfiyah (II/123). Benghazi: Jāmi’atu Qaryūnis, 1996.

[6] Lihat: Sībawaih, Al-Kitāb (II/347). Kairo: Maktabah Al-Khānijiyy, 1988.

[7] Lihat: Ar-Rummāniyy, Syarḥ Kitāb Sībawaih (I/560). Riyadh: Jāmi’atul Imām, 1998.

[8] Lihat: Ibnu Hisyām, Mughnil Labīb (hlm. 166). Beirut: Dārul Fikr, 1985.

[9] Lihat: Khālid, At-Taṣrīḥ (I/561). Beirut: Dārul Kutubil ‘Ilmiyyah, 2006.

[10] Lihat: Al-Kitāb (II/347).

[11] Lihat: As-Sairāfiyy, Syarḥ Kitāb Sībawaih (III/96). Beirut: Dārul Kutubil ‘Ilmiyyah, 2008.

[12] Lihat: As-Suyūṭiyy, Ham’ul Hawāmi’ (III/282). Beirut: Muassasah Ar-Risālah, 1992.

[13] Lihat: Al-Muqtaḍab (IV/426).

[14] Ibnu Ya’īsy, Syarḥul Mufaṣṣal (II/49). Beirut: Dārul Kutubil ‘Ilmiyyah, 2001.

[15] Lihat: At-Taṣrīḥ (I/564).

[16] Lihat: Muḥyiddīn, ‘Uddatus Sālik (II/283). Beirut: Al-Maktabah Al-‘Aṣriyyah, 2008.

[17] Lihat: At-Taṣrīḥ (I/561) & ‘Uddatus Sālik (II/283).

[18] Lihat: As-Sairāfiyy, Syarḥ Kitāb Sībawaih (III/96).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *